Saturday, April 16, 2011

Putra Indonesia Juara Buat Game di Amerika

SATU lagi putra Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di level dunia. Dia adalah Muhammad Al-Fatih Ridha yang berhasil menjadi salah satu juara dalam kompetisi desain dan programming video game di Amerika Serikat.

Lomba yang diikuti Fatih adalah kompetisi tingkat nasional game programming se-Amerika Serikat bernama National Science Technology Engineering Math (STEM) Video Game Challenge, yang diinspirasi oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama.

Tujuan dari event ini adalah untuk memacu motivasi minat para pelajar dalam mendalami ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika dengan memanfaatkan permainan komputer.

Selain Fatih, ada 11 pelajar AS lainnya yang juga didapuk sebagai jawara. Mereka bersaing dengan 500 peserta lainnya, yang terdiri dari para pelajar grade 5-8 (tingkat SD dan SMP).



Kemenangan Fatih yang masih berusia 12 tahun ini terasa lebih istimewa karena pengumuman para pemenang dilakukan langsung oleh Chief Technology Officer AS, Aneesh Chopra, di Washington, DC.

Fatih merupakan siswa grade 8 Homeschool di Beaverton, Oregon, AS. Ia mendesain dan memprogram game yang berjudul “Zuff’s Adventure”.

Game ini didesain dengan menggunakan game maker software dengan bahasa pemrograman GML (Game Maker Language) yang menceritakan petualangan karakter bernama Zuff.

STEM Video Game Challenge sendiri disponsori oleh Entertainment Software Association, Microsoft dan The AMD Foundation serta berpartner dengan The Joan Ganz Cooney Center dan E-Line Me.

Dari Ayah

Pepatah yang mengatakan buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya sepertinya berlaku untuk Muhammad Al-Fatih Ridha. Adalah Mohamad Ridha, sang ayah, yang ternyata memperkenalkan pengatahuan soal game programming sejak beberapa tahun lalu sehingga memicu ketertarikan sendiri dari sang anak.

Ratu Vanda Wardani, ibunda Fatih mengatakan, ayah Fatih memang berlatar belakang pendidikan komputer dan saat ini tengah menyelesaikan studi S3 serta tetap aktif bekerja di bidang komputer di AS.

“Hingga akhirnya Fatih ikut lomba karena tertarik melihat iklan mengenai lomba tersebut di salah satu educational website di internet yang sering kami kunjungi (brainpop.com),” ujar Vanda.

Pada awalnya, lanjut Vanda, tak ada target muluk dari Fatih. Bocah 12 tahun yang sejak kecil tinggal di AS ini ikut lomba tersebut dengan niat mencari pengalaman dan belajar lebih jauh bagaimana mendesain dan membuat game. Dia tidak menyangka akan memenangkan lomba ini.

“Dia sudah terbiasa ikut kompetisi dengan anak-anak di sini (Amerika-red). Setiap tahun dia dan adiknya ikut kejuaraan catur tingkat state (negara bagian-red.), kadang mereka menang, tapi tak jarang kalah juga,” lanjut Vanda, ibu rumah tangga yang mengajarkan anak-anaknya di rumah (homeschool) itu.

Source

0 comments:

Post a Comment