Showing posts with label Digital Camera. Show all posts
Showing posts with label Digital Camera. Show all posts

Monday, May 2, 2011

Osama bin Laden Tewas

Osama bin Laden Tewas Setelah Ditembak di Kepala


Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mengumumkan kematian Osama bin Laden. Pemimpin jaringan Al Qaeda itu tewas dalam serangan pasukan AS di Pakistan. Osama tewas setelah ditembak di bagian kepala.

Hal itu disampaikan pejabat-pejabat AS kepada stasiun televisi NBC, seperti dilansir MSNBC, Senin (2/5/2011).

Dikatakan pejabat-pejabat yang enggan disebutkan namanya itu, pasukan Operasi Khusus AS melancarkan serangan terhadap sebuah bangunan di luar Islamabad, Pakistan. Dalam pertempuran yang terjadi Minggu, 1 Mei itu, personel AS melepaskan tembakan yang mengenai kepala Osama. Dia pun tewas dalam kontak senjata itu.

Sebelumnya, dalam pidatonya di Gedung Putih, Obama menyampaikan bahwa pasukan AS telah menewaskan Osama yang telah bertahun-tahun diburu Angkatan Bersenjata AS.
Dikatakan Obama, pada Agustus lalu, pejabat intelijen AS mendapatkan informasi mengenai keberadaan Osama yang kemudian mendorong adanya operasi yang puncaknya terjadi pada Minggu kemarin dengan kematian Osama.

"Dan akhirnya, pekan lalu, saya putuskan bahwa saya telah mendapatkan intelijen yang cukup untuk bertindak dan memerintahkan operasi untuk menangkap Osama bin Laden dan mengadilinya," kata Obama dalam pidatonya di Gedung Putih.

Sunday, April 24, 2011

Pepi Fernando Simpan 8 Bom Aktif di Rumah Mertua

BEKASI - Kepolisian sedikitnya menemukan delapan bom aktif di rumah mertua Pepi Fernando di Jalan Seruni Indah 2 No 14 Blok C-E, Perumahan Harapan Indah Bekasi, Jawa Barat.
Tidak hanya itu, ada dua bom yang baru dirakit sekitar 85 persen.

Sepuluh bom itu diamankan polisi saat melakukan penggeledahan di rumah mertua Pepi pada Sabtu (23/4/2011) dinihari. Penggeledahan merupakan penggeledahan kedua. Polisi pertama kali mendatangi rumah mertua Pepi pada Kamis (21/4/2011) petang.
"Saya dengarnya dari polisi. Karena kebetulan saya ada di belakangnya," ungkap Wilson, salah seorang tetangga mertua Pepi, kepada wartawan, Minggu (24/4/2011).

Wilson mengatakan penggeledahan kedua dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB. Puluhan anggota Densus 88 bersenjata lengkap tidak menarik perhatian warga karena saat itu cuaca tengah hujan.

Saat penggeledahan dilakukan, Wilson menyebutkan seluruh keluarga Alwi Hasni, mertua Pepi, diungsikan ke pos keamanan RT 08 yang bersebelahan dengan rumah. Aparat setidaknya masuk ke dalam rumah mertua Pepi sebanyak dua kali.

"Yang kedua itu tiba-tiba saja. Jadi keluarga mertuanya (Pepi) itu sudah sempat disuruh masuk lagi ke rumah. Trus tiba-tiba Densus masuk lagi. Katanya sih ada temuan lagi," tuturnya.

Wilson mengatakan ketika penggeledahan kedua berlangsung, tidak tampak Pepi atau istrinya. Hanya ada kedua mertua Pepi, sejumlah kerabat, pembantu rumah tangga, dan seorang bayi.

Saturday, April 23, 2011

Film '?' Untuk Menyambut Paskah

Jakarta - Dirasa film '?' (baca: tanda tanya) bisa merusak aqidah umat Islam, Front Pembela Islam (FPI) melakukan protes atas tayangan film itu. Protes yang dilakukan oleh FPI dengan cara mendatangi pihak yang dirasa sebagai produser film '?', yakni Mahaka Pictures, Dapur Film, dan Harian Republika.
FPI merasa gerah dengan film itu sebab film itu menceritakan soal pluralisme, bukan pluralitas, di mana dalam masalah beragama bisa dicampuradukan, bahkan menampilkan sebuah kebiasaan yang selama ini mungkin tidak pernah terjadi, seperti Menuk (Rivalina S Temat) seorang gadis yang taat beribadah dan memakai jilbab, namun menjadi panitia acara Paskah.

Kemudian Surya (Agus Kuncoro) seorang pemuda yang kadang bertingkah seperti santri, kadang seperti abangan, ketika ditawari Rika (Endhita), seorang Muslim namun murtad menjadi seorang Katolik dengan nama baptis Theresia, bersedia menjadi pemeran Jesus saat pementasan drama penyaliban Jesus pada acara Paskah. Dalam film itu, klimaksnya diceritakan di tengah sebuah acara pementasan drama, Sholeh (Reza Rahadian) seorang anggota Banser, underbow organisasi Islam NU, yang tengah ikut menjaga keamanan bersama dengan polisi menemukan sebuah bingkisan bom di bawah kursi jemaat gereja, untung ia berhasil mengamankan bom itu sehingga jemaat gereja selamat dari ledakan bom, namun diri Sholeh tewas dengan bom yang dipeluknya itu.

Intinya dalam film tersebut adalah awalnya agama sumber konflik, namun setelah berproses, agama adalah damai, pindah agama adalah suatu hal yang biasa, dan perbedaan agama tidak menjadi masalah. Hanung Bramantyo menyampaikan pesan pada film itu adalah perlunya toleransi dalam kehidupan beragama. Film itu dibuat di tengah munculnya konflik yang dilatarbelakangi perbedaan agama yang marak beberapa waktu yang lalu. Hanung Bramantyo membuat film '?' dengan tema pluralisme, mungkin sebuah upaya pria asal Jogjakarta itu untuk menjaga keseimbangan produksinya, sebelumnya sudah banyak film-film produksi Hanung Bramantyo yang bertemakan Islam, seperti 'Perempuan Berkalung Surban', 'Ayat-Ayat Cinta', dan 'Sang Pencerah'.

Membuat produksi film bermutu seperti apa yang dilakukan Hanung, patut diapresiasi, sebab dengan langkah seperti itu mampu menarik masyarakat untuk berduyun-duyun ke bioskop untuk menonton film Indonesia di tengah boikot film Hollywood. Apa yang dilakukan oleh Hanung dengan membuat film yang mendidik dan syarat makna, meski tetap perlu dikritisi, sebagai upaya untuk melawan film-film yang tidak berkualitas dan hanya menonjolkan keseksian dan kemolekan pemain tanpa diimbangi isi cerita yang
mencerdaskan. Bayangkan bila film dibuat hanya bertujuan untuk mencari untung semata.

Demi meraih untung semata, beberapa produser mendatangkan bintang-bintang porno untuk bermain film di Indonesia. Setelah bintang porno seperti Miyabi bermain di film Indonesia, kemudian disusul Leah Yuzuki, Tera Patrick, Rin Sakuragi, Sora Aoi, dan rencananya Sasha Grey. Kalau filmnya dibintangi oleh pemain seperti itu, pasti kita bisa menebak alur ceritanya. Bayangkan bila film-film yang demikian dilepas di pasar, pasti kita akan membayangkan dampaknya.

Banyaknya produser film mengundang bintang film porno untuk main di film garapannya
selain hanya mencari keuntungan, bisa jadi mereka tidak mau bersulit-sulit dalam membikin film. Dengan bintang film porno pastinya setting tempatnya paling-paling sebatas ranjang. Dari sinilah maka, Garin Nugroho pernah mengatakan, film-film Indonesia saat ini terlalu meremehkan penonton dengan dibuat dan dikemas seadanya sehingga membuat penonton bosan. Akibat dari itu membuat perfilman Indonesia lesu, sebab proses pembuatannya kebanyakan dilalukan secara instan.

Film-film yang dibintangi film porno memang juga mengundang protes dari masyarakat,
anggota DPR Komisi X pun sering meyayangkan dan mengkritik banyaknya bintang film porno yang bermain di Indonesia, menteri terkait pun juga mengatakan hal yang sama dengan anggota DPR. Bila demikian apakah membuat film di Indonesia tidak bebas dan justru dibatasi oleh masyarakat sendiri? Tentu tidak, membikin film di Indonesia diberi kesempatan yang luas, buktinya film 'Gie' yang disebut kekiri-kirian saja bisa tayang di Indonesia, meski demikian semuanya harus ada rambu-rambunya. Semua film harus patuh pada norma dan aturan yang ada, dan realita yang benar-benar terjadi di masyarakat. Tujuan film dibuat tidak hanya sekadar menghibur namun juga memberi pendidikan.

Dari sini jelas film mana yang perlu diprotes dan mana yang tidak. Film-film yang dibintangi oleh bintang film seperti Miyabi, Leah Yuzuki, Tera Patrick, Rin Sakuragi, Sora Aoi, dan Sasha Grey, pastinya tidak cocok dengan realita yang terjadi di masyarakat, perilaku bintang filmnya saja sudah tidak sesuai dengan norma kepatutan dan etika bangsa Indonesia, sehingga secara otomatis filmnya juga tidak cocok dengan budaya kita.

Sementara film-film misalnya seperti 'Alangkah Lucunya Negeri Ini' dan '?', menggambarkan sebuah realita yang benar-benar terjadi di masyarakat. Seperti dalam
film Alangkah Lucunya Negeri Ini, diceritakan bagaimana watak bangsa Indonesia meski
berpendidikan masih tetap saja korupsi, meski beragama tetap saja melanggar hukum. Dengan film seperti itulah maka masyarakat bisa mengambil hikmahnya. Dengan film seperti itu kita bisa bercermin sejauh mana perilaku kita.

Di sini film-film bermutu seperti garapan Hanung Bramantyo dan Deddy Mizwar tidak hanya sekadar memberi pendidikan kepada masyarakat, namun juga sebuah upaya untuk memproduksi film yang tidak sembarangan. Produksi film yang tidak sembarangan ini sebagai kontra dari produksi film yang sembarangan, sembarangan dari bintang filmnya dan sembarangan dari ceritanya.

Source

Saturday, April 9, 2011

Fotografer Punya 60 Frame Foto Arifinto Nonton Video Porno

Jakarta - Arifinto mengklaim video porno yang ditontonnya berupa kiriman email. Namun foto-foto hasil jepretan fotografer Media Indonesia M Irvan menunjukkan politikus PKS itu sedang asyik membuka folder dari tablet pc-nya.

"Saya punya 60 frame yang sudah saya kirim ke kantor," kata Fotografer Media Indonesia, M Irvan kepada detikcom, Sabtu (9/4/2011) malam.

Irvan menyakini kalau Arifinto membuka folder untuk menonton video porno bukan dari email. "Silakan diklik di MIcom (mediaindonesia.com) ada semua di situ," ungkapnya.

Arifinto kepergok melihat tayangan porno saat sidang paripurna tentang pengesahan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) dan pidato penutupan masa sidang III tahun sidang 2010-2011. Dalam jumpa pers Jumat (8/4) kemarin di DPR, Arifin mengaku jika ia membuka e-mail miliknya karena jenuh mengikuti rapat paripurna.

Arifin mengatakan, ia sudah biasa membuka e-mail saat rapat di DPR. Karena dengan membuka e-mail, bisa membantu pekerjaannya. "Saya rasa, kan saya biasa buka e-mail pada waktu rapat, membantu pekerjaan tidak ada masalah," katanya.

Arifin juga tetap menampik tudingan jika ia sengaja menonton video porno. Ia menonton video porno secara tidak sengaja, karena membuka link yang dikirimkan seseorang kepadanya. "Pada waktu saya membuka e-mail, beberapa detik saya membuka, saya dijepret. Seolah-olah sampai kiamat saya nonton," elak Arifinto.

�